JAKARTA (CanelNews)— Upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam ekonomi syariah global terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor. Bidang Komunikasi Strategis dan Kerjasama Internasional Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), bersama Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), menegaskan pentingnya peran diaspora Indonesia sebagai global investment connector dalam mendorong transformasi ekonomi syariah nasional.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Webinar EKSYAR Diaspora–PPI bertajuk “Peran Strategis Diaspora dalam Mendorong Transformasi Ekonomi Syariah melalui Optimalisasi Investasi ST016 pada Tingkat Global dan Nasional” yang diselenggarakan pada Rabu, 6 Mei 2026/19 Dzulqaidah 1447 H, di Auditorium Lantai 1 Gedung DJPPR/Frans Seda, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menghadirkan 150 peserta, terdiri dari 50 peserta luring dan 100 peserta daring, serta mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas global.
Meskipun Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report, posisi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kapasitas Indonesia sebagai big player di tingkat global. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih progresif, terintegrasi, dan berorientasi global untuk memperkuat daya saing nasional.
Salah satu instrumen strategis yang menjadi fokus adalah Sukuk Tabungan seri ST016 yang akan ditawarkan mulai 8 Mei hingga awal Juni. Dengan imbal hasil kompetitif di kisaran 6–7%, insentif pajak yang lebih rendah, serta jaminan negara, instrumen ini dinilai memiliki daya tarik tinggi, termasuk bagi diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara. Potensi remitansi diaspora global yang mencapai sekitar USD 850 miliar per tahun turut menjadi peluang besar dalam memperluas basis investor dan memperkuat kepercayaan pasar internasional.
Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia sekaligus Ketua Bidang Komunikasi Strategis dan Kerjasama Internasional IAEI, Murniati Mukhlisin, menegaskan bahwa partisipasi diaspora dalam investasi syariah merupakan bentuk kontribusi konkret terhadap pembangunan nasional. Ia juga menyoroti pentingnya inovasi instrumen, seperti green sukuk dan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), yang menggabungkan nilai ekonomi dan dampak sosial. Sebagai Pimpinan Sakinah Finance, Murniati turut menyoroti pentingnya portfolio Sukuk di dalam perencanaan keuangan keluarga. Minimal 10 persen dari jumlah pendapatan bulanan harus dialokasikan untuk investasi, kalau tidak ada cicilan utang berarti bisa sampai 40 persen” ujar Murniati.
Sekretaris Jenderal IAEI, Sutan Emir Hidayat, menambahkan bahwa diaspora Indonesia memiliki kekuatan strategis melalui jejaring global, kapasitas finansial, dan komitmen kebangsaan. “Dengan kemudahan akses digital, diaspora didorong untuk memulai investasi secara konsisten, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas global,” ujarnya.
Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan, Deni Ridwan, menggarisbawahi tantangan utama berupa kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan. Pemerintah, lanjutnya, terus menghadirkan instrumen yang aman, mudah diakses, dan menguntungkan, serta mendorong pemanfaatan teknologi digital yang memungkinkan investasi dimulai dari nominal terjangkau, termasuk bagi diaspora.
Dalam perspektif global, Executive Director World Bank Group, Wempi Saputra, menekankan bahwa diaspora memiliki tiga pilar utama dalam mendorong investasi, yaitu knowledge, networking, dan capital. Ketiganya harus ditopang oleh kepercayaan dan tata kelola yang kuat, termasuk melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Sementara itu, Muhammad Iman Sastra Mihajat menyoroti pentingnya penguatan institusi keuangan syariah nasional agar Indonesia memiliki entitas besar yang mampu bersaing di tingkat global. Harri Gemilang juga menekankan bahwa faktor kepercayaan, tata kelola syariah, dan kredibilitas sistem menjadi pertimbangan utama investor global, sehingga strategi komunikasi produk perlu lebih adaptif, ringkas, dan modern.
Koordinator PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution, menyampaikan bahwa tingkat kesadaran diaspora terhadap ekonomi syariah Indonesia telah berkembang, namun belum sepenuhnya mendorong aksi investasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih tersegmentasi untuk mendorong transformasi diaspora dari audiens menjadi advocate.
Forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kampanye berbasis komunitas diaspora, peningkatan partisipasi Indonesia dalam forum investasi global, serta penguatan tata kelola dan transparansi untuk meningkatkan kredibilitas di mata investor internasional. PPI Dunia juga menyatakan komitmennya untuk berperan aktif sebagai penghubung investasi melalui program literasi global, kampanye digital, serta forum internasional sepanjang tahun.
Melalui sinergi yang berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu mempercepat transformasi menuju pusat ekonomi syariah global yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing tinggi.








