Menebar Pakan, Memanen Harapan di Gading Sari

Anggota Pokdakan Mekar Mulya memperlihatkan ikan lele yang siap panen kepada Ketua Pokdakan Sugiarto dan Officer CID PHR,Lidya Sari

Oleh: Wiwik Widaningsih

Raut wajah Sugiarto tampak sumringah saat mendekati deretan kolam terpal. Tangannya menaburkan pelet ke dalam air. Ikan lele bergerak gesit, berebut makanan hingga menimbulkan riak di permukaan. Di salah satu sudut kolam, eceng gondok dibiarkan tumbuh sebagai peneduh alami.

Sugiarto tampak tersenyum ketika salah seorang anggota kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) mengangkat jaring yang berisi ikan lele dari kolam. Puluhan ikan berukuran besar menggelepar saling tumpang tindih.

Senyum di wajah Sugiarto seolah menyimpan rasa lega. Ikan-ikan yang dipeliharanya kini telah besar dan siap dipanen. Hasil itu menjadi buah dari ketekunan yang dijalaninya bersama anggota selama ini.  

Di sekitar kolam, terlihat aktivitas pembudidaya ikan air tawar lele terus berlangsung. Mulai dari memeriksa kondisi air, menyiapkan pakan, hingga mengurus ikan siap panen. Pemandangan ini telah menjadi bagian dari keseharian Sugiarto sebagai Ketua Pokdakan Mekar Mulya bersama sembilan orang anggota lainnya di Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau.

Di lahan sekitar setengah hektare ini, kelompok tersebut kini mengelola 50 kolam ikan dengan berbagai ukuran. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan saat awal merintis usaha, ketika Sugiarto hanya memiliki lima kolam di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit Desa Gading Sari.

Jatuh Bangun Menuju Kemandirian

Di balik puluhan kolam ikan yang terbentang, terdapat perjalanan panjang yang tidak mudah bagi Pokdakan Mekar Mulya. Berbagai tantangan mereka hadapi demi mempertahankan usaha pembudidaya ikan air tawar hingga berkembang seperti sekarang ini.

Mayoritas masyarakat Desa Gading Sari menggantungkan hidup dari perkebunan kelapa sawit. Sebagian besar bekerja sebagai buruh kebun yang juga bertugas memanen buah sawit.

Di tengah kehidupan masyarakat yang bergantung pada perkebunan kelapa sawit, Sugiarto lebih dahulu merintis usaha budi daya ikan sejak 2006, jauh sebelum kelompok itu terbentuk pada 2024. Bermodalkan dana sendiri dan memanfaatkan lahan miliknya, ia memulai usahanya dengan peralatan seadanya.

“Awalnya mencoba-coba budi daya ikan saja dengan modal seadanya. Pemasaran dijual di warung-warung sekitar rumah, ” ungkap Sugiarto sambil menatap kolam ikan.

Seiring perjalanan waktu, Sugiarto mengajak rekannya untuk mengembangkan usaha bersama. Pada 2024, terbentuklah Pokdakan Mekar Mulya yang beranggotakan 10 orang. Namun, membangun usaha secara berkelompok bukan berarti semua persoalan langsung teratasi. Keterbatasan modal dan kepastian pasar masih menjadi kendala utama.

Aktivitas peninjauan dan penjelasan kolam lele oleh pengurus Pokdakan Mekar Mulya

Peluang mulai terbuka ketika seorang mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meminta kelompok tersebut menambah jumlah kolam untuk memenuhi kebutuhan pasokan ikan lele dalam jumlah besar. Permintaan itu disambut dengan langkah berani. Demi memperluas usaha, mereka sepakat mengajukan pinjaman ke bank untuk membangun kolam tambahan di atas  lahan seluas setengah hektare milik Sugiarto.

“Ada salah seorang mitra SPPG yang meminta kami  untuk menambah kolam sebanyak- banyaknya dan akan mengambil ikan. Akhirnya, kami sepakat meminjam uang ke bank untuk buat kolam lagi yang akhirnya kini telah memiliki puluhan kolam ikan,” ceritanya.

Namun, peningkatan produksi juga menghadirkan tantangan baru bagi Pokdakan Mekar Mulya. Untuk mendapatkan benih ikan berkualitas, mereka harus menempuh waktu lebih dari dua jam ke Sungai Pagar. Jarak yang cukup jauh ini membuat benih berisiko mati akibat stres selama pengangkutan.

Belum lagi harga pelet pabrik terus naik, sementara hasil jual lele di pasar tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Faktor cuaca juga dapat memicu munculnya jamur pada ikan.

“Banyak tantangan yang dihadapi, mulai membeli benih ikan di Sungai Pagar yang risikonya banyak yang mati karena jauh, terutama mahalnya pakan ikan pabrikan,” ungkapnya Sugiarto.

Dalam sehari, kelompok ini membutuhkan sekitar 60 kilogram pelet untuk memenuhi 50 kolam. Sebanyak 30 kilogram diberikan pada pagi hari dan sisanya diberikan pada sore hari. Sementara itu, panen dilakukan setiap 2,5-3 bulan, tergantung ukuran ikan yang dibutuhkan konsumen.

Meski demikian, usaha ini telah membawa perubahan bagi anggota Pokdakan Mekar Mulya. Thomas, salah seorang anggota, merasakan manfaat ekonomi sejak bergabung dengan kelompok ini.

“Alhamdulillah, sangat terbantu sekali sejak bergabung dengan kelompok ikan ini. Sebelumnya, saya hanya menanam sayur-sayuran saja,” katanya dengan mimik wajah ceria.

Bagi Thomas, budi daya lele bukan sekedar  usaha tambahan. Kegiatan tersebut telah membuka peluang penghasilan baru untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dari Kolam ke Dapur SPPG  

Persoalan pakan selama ini menjadi beban bagi Pokdakan Mekar Mulya perlahan mulai mendapatkan jalan keluar. Di sebuah pondok sederhana di samping kolam, dua mesin pembuat pakan berwarna merah dan hijau kini berdiri. Mesin tersebut merupakan bantuan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan, masing-masing berkapasitas 100 kilogram per jam.

Satu mesin berfungsi menggiling bahan baku, sementara mesin lainnya mencetak adonan menjadi pelet. Beberapa anggota memperagakan proses pembuatan pakan. Bahan berupa dedak padi, tepung ikan rucah, dan formula probiotik racikan sendiri disiapkan dalam tampah anyaman, kemudian satu per satu dimasukkan ke dalam corong mesin.

Bagi anggota Pokdakan Mekar Mulya, adanya bantuan peralatan itu sangat berarti bagi mereka. Persoalan mahalnya pakan pabrik yang selama ini membebani biaya produksi kini sudah teratasi dengan adanya dua mesin tersebut.

“Mesin pembuat pelet ini kini merupakan jantung produksi kami sekarang. Alat ini sangat membantu sekali mengatasi persoalan mahalnya pakan ikan pabrik,” kata Sugiarto.

Ia mengungkapkan, sejak menggunakan mesin dari PHR ini, biaya pakan bisa turun hingga 70 persen. Selain bantuan mesin, PHR juga memberi 30 ribu bibit lele dan 500 kilogram bahan pakan.

“Baru kali inilah perusahaan membantu kami, mulai dari bibit, bahan pakan, sampai mesin pakan ini dibantu sampai tuntas. Kami sangat berterima kasih kepada PHR atas bantuan tersebut,” ungkapnya .

Pengolahan pakan ikan menggunakan mesin bantuan yang dioperasikan bersama anggota Pokdakan Mekar Mulya dan tim CID PHR sedang mengolah

“Kami mempekerjakan beberapa orang ibu rumah setiap dua hari sekali membersihkan ikan sebelum dikirim ke dapur SPPG. Alhamdulillah, bisa menambah uang belanja dapur. Limbah atau sisa ikan dibersihkan juga dapat diolah kembali menjadi bahan pakan,” jelas Sugiarto

Berdasarkan data program, pembuatan pakan secara mandiri diproyeksikan mampu menghemat biaya pembelian pakan sekitar Rp 12 juta per tahun. Sementara itu, potensi omzet kelompok dari penjualan ikan lele mencapai Rp 480 juta per tahun.

Dampak bantuan mesin tersebut tidak hanya dirasakan para pembudidaya. Kegiatan ini juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar, termasuk ibu rumah tangga yang membantu proses pascapanen. Sebelum dipasarkan, ikan lele terlebih dahulu dibersihkan dan disortir,  kemudian disalurkan ke dapur-dapur SPPG.

Dari kolam hingga proses pengolahan, budi daya lele perlahan tumbuh menjadi kegiatan ekonomi bersama. Tidak hanya menghasilkan ikan, usaha tersebut menciptakan peluang pendapatan bagi warga sekitar.

Mitra SPPG, Hardi Purwanto menyampaikan bahwa pengambilan ikan lele dari Pokdakan Mekar Mulya dapat dilakukan dua hingga tiga kali seminggu, tergantung kebutuhan. Ikan hasil budi daya kelompok tersebut disalurkan ke tujuh dapur SPPG di Kecamatan Tapung untuk memenuhi kebutuhan 13 lembaga pendidikan yakni pesantren, taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

“Satu dapur memiliki kebutuhan sekitar 300-350 kilogram ikan per hari. Pengambilan tidak bersamaan, melainkan bergantian. Sistim pembayaran tunai, langsung dibayar,” kata Hardi.

CID  PHR  Memperkuat  Dukungan  Masyarakat  dan  Keberlanjutan

Bagi PT PHR, dukungan terhadap Pokdakan Mekar Mulya merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di wilayah operasional melalui program Community Involvement and Development (CID).

Program tersebut diarahkan untuk mendorong pengembangan ekonomi masyarakat, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Lidya Sari, CID Officer PHR WK Rokan, menjelaskan bahwa program perikanan di Desa Gading Sari mulai dijalankan pada awal  2026. Sebelumnya, tahun 2025, perusahaan telah melakukan verifikasi lapangan untuk melihat kondisi dan kebutuhan kelompok.

“Dari hasil diskusi yang dilakukan, kelompok ini mengeluhkan tingginya biaya pakan. Karena itu, PHR memberikan mesin pakan agar kelompok ini bisa memproduksi secara mandiri. Juga memberikan 30 ribu bibit ikan lele dan bahan baku pakan sebanyak 500 kilogram,” ungkap Lidya.

Dari bantuan benih ikan lele tersebut, Pokdakan Mekar Mulya telah melakukan panen perdana bantuan. Pakan menjadi bagian penting dalam budi daya ikan karena berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan dan biaya produksi. Dengan adanya alat dan bahan baku, kelompok memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan memproduksi pakan sesuai kebutuhan budi daya.

“Bukan hanya sekadar bantuan, kami juga ingin membangun kemandirian masyarakat. Harapan kami, begitu kami tidak lagi memberikan bantuan, mereka masih bisa terus melanjutkan usahanya,” harapnya.

Ke depan, PHR juga melihat peluang pengembangan usaha melalui pembibitan ikan lele. Apalagi permintaan pasokan dari SPPG tersebut cukup tinggi, sementara kelompok belum sepenuhnya mampu memenuhi dari permintaan. Namun, rencana tersebut memerlukan persiapan, terutama terkait sumber daya yang memiliki kompetensi untuk melakukan pengembangan benih.

Bagi PHR, keberlanjutan program tidak hanya diukur dari jumlah bantuan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha secara mandiri setelah pendampingan berakhir.

Dukungan Pemerintah Membuka Peluang Ekonomi Masyarakat

Perkembangan Pokdakan Mekar Mulya turut mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kecamatan Tapung. Camat Tapung Yorin Efendi mengapresiasi dukungan PT PHR yang telah memfasilitasi bantuan peralatan pembuatan pakan ikan bagi kelompok tersebut. Menurutnya, bantuan mesin dan bahan baku menjadi solusi yang selama ini dihadapi kelompok. 

“Kami mewakili Pemerintah Kecamatan Tapung mengucapkan terima kasih kepada PT PHR yang telah memfasilitasi bantuan peralatan pembuatan pakan untuk mendukung budi daya lele ini,” ungkap Yorin di sela-sela peninjauan di Pokdakan Mekar Mulya.

Yorin tampak antusias saat menyaksikan langsung aktivitas Pokdakan Mekar Mulya. Ia melihat potensi besar dari usaha yang dikembangkan kelompok tersebut. Apalagi, setiap minggu, kelompok ini mampu menghasilkan 1 ton ikan lele yang dipasarkan ke sekitar tujuh dapur SPPG di wilayah Kecamatan Tapung.

“​Keberhasilan ini tentu menjadi kebanggaan bagi kita semua. Potensi desa melalui Kelompok Mekar Mulya terbukti mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat sekitar di Desa Gading Sari,” katanya.

Yorin berharap Pokdakan Mekar Mulya ini dapat terus meningkatkan produksinya dan memperluas manfaat usaha bagi masyarakat. Ke depan, ia juga berupaya mendorong agar model budi daya yang telah dikembangkan dapat diterapkan melalui sistem plasma oleh kelompok masyarakat lainnya, baik di Desa Gading Sari maupun desa-desa sekitar. Dengan demikian, keberhasilan nantinya diharapkan dapat membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas di tingkat desa.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Gading Sari, Muhammad Ishan. Ia berharap program tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama pengembangan usaha budi daya ikan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami berharap Pokdakan dapat menjalankan program ini sebaik-baiknya agar terus berkelanjutan dan memberikan hasil yang maksimal,” ujarnya

Jadi Pusat Percontohan Dan Pelatihan

Keberhasilan Pokdakan Mekar Mulya mengelola budi daya lele kini menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Tidak hanya dikenal sebagai kelompok pembudidaya ikan, Pokdakan ini juga mulai berperan sebagai tempat belajar dan berbagai pengalaman.

Kelompok ini mulai menjadi tempat belajar bagi pelajar madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah kejuruan (SMK), santri pondok pesantren, hingga ibu rumah tangga yang ingin melihat secara langsung proses budi daya lele, pembuatan pakan mandiri, dan  pengelolaan usaha perikanan.

Ketua Pokdakan Mekar Mulya, Sugiarto, saat memberikan keterangan di area kolam ikan lele

Bagi Sugiarto dan anggota lainnya, kunjungan tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Apa yang sebelumnya dirintis dari usaha kecil dengan modal seadanya kini mulai berkembang menjadi kegiatan dapat memberikan manfaat lebih luas.

Pengalaman menghadapi keterbatasan modal, mahalnya pakan, hingga persoalan pemasaran menjadi pelajaran berharga yang bisa dibagikan kepada kelompok lain. Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit Desa Gading Sari, puluhan kolam lele menjadi gambaran bahwa potensi ekonomi lokal dapat tumbuh melalui kerja sama, ketekunan, serta energi dari berbagai pihak.

Sugiarto mengatakan, Pokdakan Mekar Mulya kini menjadi tempat belajar bagi-anak-anak sekolah untuk mengenal budi daya ikan. Kelompok tersebut juga berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para pengunjung.

Dari lima kolam sederhana hingga puluhan kolam yang kini dikelola bersama, perjalanan Pokdakan Mekar Mulya emperlihatkan bahwa sebuah usaha dapat tumbuh dari langkah kecil. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pemanfaatan bahan lokal, dan keterlibatan masyarakat, kolam-kolam lele itu bukan hanya menghasilkan, tetapi juga menebar harapan menuju kemandirian.

Oleh : Wiwik Widaningsih

Editor : Hasan

  • Related Posts

    Dinas Kominfo Rohil Tegaskan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan, Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi

    Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kab. Rokan Hilir Sdr. Juliandra, S.H. ROKAN HILIR (Canelnews)– Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Rokan Hilir mengimbau masyarakat agar tidak mudah…

    Lebih Kurang Tiga Bulan Terkatung-katung, Kasus Penganiayaan Di Batam Akhirnya Naik Penyidikan.Polisi Tetapkan HN Jadi Tersangka

    KEPRI – Penantian panjang korban dugaan penganiayaan di Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, akhirnya membuahkan hasil. Setelah sempat tertahan hampir tiga bulan karena menunggu hasil visum, Polsek Lubuk Baja resmi…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    PWI Siak Bekali Kepala Sekolah Literasi Jurnalistik di Era Digital Tingkat SMA/SMK

    • By admin
    • Oktober 29, 2026
    • 19 views
    PWI Siak Bekali Kepala Sekolah Literasi Jurnalistik di Era Digital Tingkat SMA/SMK

    Nasi MBG Mentah dan Lauk Kecil, Penerima Manfaat di Posyandu Tambak Rejo Bengkalis Mengeluh

    • By admin
    • Oktober 28, 2026
    • 40 views
    Nasi MBG Mentah dan Lauk Kecil, Penerima Manfaat di Posyandu Tambak Rejo Bengkalis Mengeluh

    Menebar Pakan, Memanen Harapan di Gading Sari

    • By admin
    • Oktober 26, 2026
    • 68 views
    Menebar Pakan, Memanen Harapan di Gading Sari

    PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau, Siapkan Talenta Siap Kerja melalui Program Upskilling dan Pengembangan SDM

    • By admin
    • Oktober 25, 2026
    • 26 views
    PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau, Siapkan Talenta Siap Kerja melalui Program Upskilling dan Pengembangan SDM

    Siasat KWT Melati: Berdamai dengan Monyet, Mandiri Lewat Keripik dan Bank Sampah

    • By admin
    • Oktober 22, 2026
    • 26 views
    Siasat KWT Melati: Berdamai dengan Monyet, Mandiri Lewat Keripik dan Bank Sampah

    Dinas Kominfo Rohil Tegaskan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan, Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi

    • By admin
    • Oktober 22, 2026
    • 40 views
    Dinas Kominfo Rohil Tegaskan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan, Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi