Jejak Emas Hitam : Transisi Takdir di Tepian  Batang Mandau

Dua pengunjung mengabdikan keindahan Sungai Mandau saat menikmati suasana asri di Wisata Tepian Batang Mandau, Bengkalis

Penulis : Wiwik Widaningsih

Sungai Mandau di Riau bukan lagi sekadar aliran air. Selama puluhan tahun, sungai ini identik dengan “Jejak Emas Hitam”, berfungsi sebagai jalur utama dan pendukung penting bagi industri minyak dan gas (Migas) yang telah mengubah kehidupan dan perekonomian di sekitarnya.

​Namun saat ini, sungai yang sama sedang menuliskan takdirnya kembali. Tekad yang didasari kebersamaan masyarakat Balai Pungut kini beralih fokus pada energi sosial dan ekosistem, mengubah identitas Mandau dari jalur utama migas, kini menjadi pusat ekowisata berbasis kelestarian.

Kisah ini bukan sekadar tentang penemuan sumur baru, melainkan tentang penemuan kembali identitas. Bagi masyarakat Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir  Kabupaten Bengkalis, Sungai Mandau adalah saksi bisu sejarah pada masa lalu, masa kejayaan energi nasional, hingga era transisi kini. Desa yang sejak lama hidup dari hasil sungai dan ladang, pernah menjadi jalur penting logistik migas. Kini, tanpa meninggalkan akar nelayan dan petaninya, warga perlahan

menulis babak baru kehidupan, dari jalur minyak menuju jalur wisata yang berkelanjutan. Eksplorasi emas hitam itu mengubah lanskap sosial dan ekonomi desa, membawa modernisasi sekaligus tantangan bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada alam.

Namun, Balai Pungut tidak menyerah pada perubahan zaman. Seiring berhentinya jalur logistik migas melalui Sungai Mandau ini, masyarakat memilih bertahan dengan cara baru, menggali potensi ekowisata, menumbuhkan kemandirian ekonomi, dan memulihkan lingkungan yang dulu menjadi saksi geliat industri.

Transformasi Wisata Batang Mandau

Nyaris seabad lamanya, Sungai Mandau yang membentang di Desa Balai Pungut telah menyimpan sejarah panjang. Dulunya tempat ini bukan sekadar aliran air, melainkan titik penting yang menjadi saksi bisu awal mula industri minyak dan gas. Pada masa lalu, sungai ini menjadi nadi logistik penting bagi perusahaan minyak Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM) yang membuka sumur pertama di Riau. Kini, Tepian Batang Mandau telah mengalami transformasi signifikan, bergerak dari industri menuju destinasi wisata berbasis alam dan budaya yang senakin diminati.

​Monumen Tugu Nasi Kunyit Pagar Telor menjadi simbol fisik dari takdir masa lalu itu, didirikan untuk memperingati pendaratan awal NPPM pada tahun 1932.

​“Dulu kami mencari kerja di luar desa, sekarang kami bekerja sebagai pemandu wisata Tepian Batang Mandau bagi wisatawan. Sebelumnya, kami mengikuti pelatihan mengelola manajemen wisata,” ujar Etwin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tepian Batang Mandau.

Salah seorang mengabadikan Tugu Nasi Kuning Pagar Telor di wisata Tepian Batang Mandau

Bagi warga Balai Pungut, kisah itu bukan sekadar catatan sejarah, Sungai Mandau menjadi saksi bagaimana kehidupan berubah. Jejak masa lalu masih terasa hingga kini, bukan hanya pada infrastruktur dan peninggalan teknis, tapi juga pada memori ingatan masyarakat. Kini, ketika aktivitas migas meninggalkan sungai, menyisakan kenangan sekaligus peluang untuk menulis ulang masa depan, Sungai Mandau kembali menemui jati dirinya.

​Pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat juga datang dari perguruan tinggi. Delovita Ginting, PIC Desa Wisata UMRI, menilai bahwa transformasi ini bukan sekadar pergeseran ekonomi, melainkan pergeseran paradigma. “Kami melihat potensi besar, terutama dalam menciptakan harmonisasi antara warisan sejarah industri (migas) dengan kebutuhan pelestarian lingkungan. Program yang kami jalankan bersama Pertamina Hulu Rokan (PHR) tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan kegiatan yang berbasis data dan pendekatan ilmiah. Tujuannya, agar masyarakat dapat mengelola wisata secara profesional dan berkelanjutan, sehingga masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya dalam jangka panjang,” jelasnya.

Warisan Alam dan Budaya yang Dijaga: Melestarikan Ibu Sungai

​Ekowisata Tepian Mandau tidak berhenti di tugu dan sungai. Di desa ini, tradisi dan alam berpadu menjadi kekuatan identitas. Ada Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar, tempat masyarakat Melayu dan Suku Sakai menggelar berbagai kegiatan budaya seperti musik gambus, tari zapin, dan ritual adat. Selain itu, terdapat pula wisata religi ke Makam Syekh Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi, yang kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

​Ekosistem Mandau yang unik  didominasi oleh perairan air payau dan area hutan rawa  memberikan nilai lebih pada ekowisata karena berfungsi vital sebagai penyerap karbon dan penahan abrasi. Namun di balik potensi itu, tantangan tetap besar. Pengelolaan sampah, konservasi tepian, dan penjagaan kualitas air sungai menjadi pekerjaan harian bagi Pokdarwis. Bersama PHR dan tim pendamping dari UMRI, mereka rutin menggelar pelatihan pengelolaan lingkungan, edukasi konservasi bakau, dan kegiatan bersih sungai yang melibatkan berbagao kalangan seperti para remaja setempat.

​“Bagi kami, Sungai Mandau bukan hanya sumber air, tapi sumber hidup. Jadi kalau tidak dijaga, bukan hanya wisata yang hilang, tapi juga masa depan anak cucu,” tutur Erwin, Ketua Pokdarwis Tepian Batang Mandau.

​Keseimbangan ekosistem juga berdampak langsung pada mata pencaharian warga. Sebagian besar masyarakat Balai Pungut masih menggantungkan hidup pada hasil sungai dan ladang. Ketika kualitas air membaik, ikan kembali melimpah, dan para pemancing dari luar daerah berdatangan. “Para pemancing pasti tidak bosan datang ke sini, karena spot-nya bagus dan ikannya banyak. Itu karena sungai dijaga bersama,” lanjut Erwin, sambil menatap air Mandau yang berkilau diterpa matahari.

Alih Kelola, Alih Paradigma: PHR Membangun Desa Wisata dan Kreatif Balai Pungut

Alih kelola Wilayah Kerja (WK) Rokan dari Chevron Pacific Indonesia ke PHR pada Agustus 2021 menjadi tonggak penting dalam sejarah energi nasional. Namun bagi masyarakat Balai Pungut, momentum itu tidak hanya soal pengelolaan sumber daya alam, melainkan juga soal harapan baru melalui program unggulan Community Investment and Development (CID) PHR Zona Rokan. Program unggulan, yaitu Desa Wisata dan Desa Kreatif Desa Balai Pungut yang diluncurkan pada tahun 2025, strategis mencakup tiga pilar utama PHR yakni pilar ekonomi, pilar kesejahteraan, dan pilar sosial.

R. Muhammad Wildan, Senior Officer CID PHR menunjukan produk unggulan UMKM Desa Balai Pungut

Untuk mendukung aktifitas di Tepian Batang Mandau, PHR memberikan bantuan sarana dan prasarana wisata berupa tiga unit sampan fiber lengkap dengan life jacket dan delapan set alat pancing. Fasilitas ini ditargetkan dapat dikelola oleh Pokdarwis sebagai sarana penyewaan, berpotensi menambah pendapatan kelompok hingga mencapai sekitar Rp 14 juta per tahun.

​Dampak program ini langsung terasa di sektor ekonomi desa. PHR Zona Rokan berupaya meningkatkan jumlah wisatawan melalui berbagai event pemicu aktivitas ekonomi seperti pacu sampan dan lomba memancing, yang menarik kunjungan ratusan wisatawan. Kegiatan ini secara langsung menggairahkan UMKM kuliner serta pedagang kaki lima.

“Dua tahun terakhir, tempat wisata ini ramai dikunjungi. Sekarang setiap pekan banyak pengunjung datang. Pendapatan saya naik lebih dua kali lipat. Dulu paling besar sekitar Rp 150 ribu. Kini bisa sampai Rp 500 ribu setiap event,” kata Nur Aini, pedagang makanan sambil mengaduk kopi pesanan pembeli, di kawasan wisata Tepian Batang

 Melalui kegiatan ini, terdapat potensi dampak ekonomi langsung sebesar Rp 10.000.000 bagi desa. Manfaat ini dirasakan nyata oleh UMKM kuliner dan pedagang kaki lima yang mengalami peningkatan omzet melalui partisipasi aktif dalam kegiatan wisata tersebut.

Dukungan PHR tidak hanya berhenti pada bantuan fisik, melainkan pada pembangunan kapasitas manusia. Pelatihan peningkatan kapasitas pengelola wisata dan kualitas pelayanan merupakan upaya PHR dalam pengembangan desa wisata secara profesional dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, para peserta dilatih untuk menerapkan Sapta Pesona sebagai pedoman dalam menciptakan lingkungan wisata yang ramah dan aman.

​Secara filosofis, dukungan ini menunjukkan komitmen PHR yang lebih sekadar bantuan bantuan dana . “ Melalui program Desa Wisata dan Desa Kreatif ini, PHR menunjukkan bahwa aktivitas migas dan ekowisata dapat selaras. Kami tidak hanya fokus pada bantuan fisik seperti perahu wisata dan perlengkapan keselamatan, tetapi juga pada pembangunan kapasitas manusia (human capacity building),” ujar R. Muhammad Wildan, Senior Officer CID PHR.

Transisi Berkeadilan: Dari Energi Fosil ke Energi Sosial

 ​Transisi berkeadilan di Balai Pungut fokus pada pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri migas, memastikan mereka memiliki keterampilan dan sumber ekonomi baru. “Kami ingin ada warisan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan, yang bisa dinikmati lintas generasi,” ujar R. Muhammad Wildan dari PHR.

​Di Balai Pungut, program pelatihan kewirausahaan telah membantu masyarakat lokal membuka usaha kecil-kecilan, seperti warung makan dan toko suvenir. Hal ini tidak hanya membantu peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

​“Transisi berkeadilan adalah tentang memastikan bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal dalam proses perubahan menuju masa depan yang lebih baik,” ujar Aisah, penjabat kepala Desa Balai Pungut.

​Tantangan terbesar dalam implementasi transisi berkeadilan adalah mengubah pola pikir masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan PHR sangat penting dalam mendukung proses transisi berkeadilan. Balai Pungut membuktikan bahwa kemandirian dapat tumbuh dari akar.

​Sungai yang Menulis Takdirnya Sendiri

Kini, Mandau tak lagi sekadar aliran air yang membelah daratan, melainkan nadi kehidupan baru bagi masyarakat Balai Pungut. Dari sungai yang dulu menjadi saksi aktivitas migas, kini lahir kesadaran kolektif untuk menata masa depan yang lebih hijau dan berkeadilan.

Menikmati keindahan melalui susur sungai

Tugu Nasi Kunyit Pagar Telor menjadi simbol transisi itu, dari sejarah migas menuju ekowisata berbasis budaya dan lingkungan. Di bawah langit yang sama, Sungai Mandau menulis ulang takdirnya, bukan lagi jalur minyak, melainkan jalur harapan menuju kehidupan berkelanjutan.

​“Dulu Sungai Mandau dikenal karena minyaknya, sekarang karena harapannya. Dukungan yang diberikan untuk mengembangkan wisata alam Tepian Batang Mandau oleh PHR membuat masyarakat desa semakin semangat mengelola potensi desa. Harapan kami kedepannya, objek wisata ini dapat menarik kunjungan lebih banyak lagi wisata yang akan menjadi motor penggerak ekonomi desa,” ujar Aisah, penjabat kepala Desa Balai Pungut dengan senyum di wajahnya sambil menyebutkan bantuan program dari PHR untuk Desa Balai Pungut sangat besar diantaranya bantuan wisata Tepian Batang Mandau, dan bantuan lainnya kepada warga desa.

​Dengan Tugu Nasi Kunyit sebagai penanda sejarah yang kini menjadi titik awal wisata sejarah, Sapta Pesona sebagai pedoman, dan masyarakat sebagai penggerak utama, Balai Pungut kini melangkah menuju masa depan yang mandiri, hijau, dan berkeadilan. Kini, simbol itu menemukan makna baru,tugu tersebut menjadi tempat warga bercerita tentang masa lalu dan menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda.

​“Tugu ini bukan hanya kenangan, tapi juga pesan agar kita tak melupakan asal, sambil terus bergerak menuju masa depan yang berkelanjutan,” ujar Majrun, Ketua BUMdes Tuah Melayu.

​Inilah wajah baru Sungai Mandau, sungai yang tak lagi sekadar mengalirkan minyak, melainkan menyalurkan kehidupan. Desa yang menolak tenggelam bersama sejarahnya, memilih menulis takdirnya sendiri dari jejak  Emas Hitam  menuju masa depan ekosistem yang lestari.

​Dari Sungai Mandau yang dulu menjadi jalur minyak hingga kini menjadi arus kehidupan baru, kisah ini menyimpan pesan universal bahwa bangsa yang besar bukan hanya yang kaya sumber daya alam, tetapi yang mampu berdaulat atas sejarah dan budayanya. Dan di tepian yang tenang itu, terdengar bisikan lembut air sungai “Energi sejati bukan yang digali, tapi yang tumbuh dari hati. Transisi Mandau adalah pelajaran tentang harmoni takdir.”

  • Related Posts

    Kasmarni Harapkan PT BLJ Diberi Peran Lebih Besar di Sektor Migas

    PEKANBARU (CanelNews – Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni menghadiri Rapat Penyampaian Hasil Deteksi Participating Interest (PI) 10 Persen di Wilayah Kerja Provinsi Riau yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Riau bersama Komisi Pemberantasan…

    Festival Seni Budaya Melayu Riau Perkuat Pewarisan Tradisi di Negeri Istana

    SIAK(CanelNews )– Alunan kompang, syair Melayu, dan berbagai pertunjukan seni tradisi memenuhi Halaman Siak Bermadah dalam Festival Seni Budaya Melayu Riau bertema “Junjung Budaya Negeri Istana”, Sabtu malam (20/6/2026). Di…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    Dukung Aktivitas Ekonomi Masyarakat,TPK Perawang Serahkan Bantuan Tenda Lipat untuk UMKM

    • By admin
    • Juli 16, 2026
    • 11 views
    Dukung Aktivitas Ekonomi Masyarakat,TPK Perawang Serahkan Bantuan Tenda Lipat untuk UMKM

    Bupati Afni Z Dukung Inovasi Aplikasi E-Media Di Gagas Kabid IKP Diskominfo Siak

    • By admin
    • Juli 16, 2026
    • 11 views
    Bupati Afni Z Dukung Inovasi Aplikasi E-Media Di Gagas Kabid IKP Diskominfo Siak

    Geger,Dokter Magang Ditemukan Terbujur Tak Bernyawa Di Semak Belukar Samping RSUD Siak

    • By admin
    • Juli 14, 2026
    • 6 views
    Geger,Dokter Magang Ditemukan Terbujur Tak Bernyawa Di Semak Belukar Samping RSUD Siak

    Wujud Kepedulian, PT Arara Abadi Rawat Akses Jalan Kampung Maredan Secara Rutin

    • By admin
    • Juli 14, 2026
    • 46 views
    Wujud Kepedulian, PT Arara Abadi Rawat Akses Jalan Kampung Maredan Secara Rutin

    Resah Berada Warung Remang-Remang, Emak-Emak Aksi, Polsek Tapung Lakukan Penyegelan

    • By admin
    • Juli 11, 2026
    • 24 views
    Resah Berada Warung Remang-Remang, Emak-Emak Aksi, Polsek Tapung Lakukan Penyegelan

    Satu Langkah Antisipasi, Sejuta Risiko Terhindari: TPK Perawang Sosialisasikan Bahaya Blind Spot

    • By admin
    • Juli 11, 2026
    • 35 views
    Satu Langkah Antisipasi, Sejuta Risiko Terhindari: TPK Perawang Sosialisasikan Bahaya Blind Spot