Siasat KWT Melati: Berdamai dengan Monyet, Mandiri Lewat Keripik dan Bank Sampah

Anggota KWT Melati usai mencabut ubi kayu di kebun

Sempat putus asa akibat serangan kawanan monyet, 13 anggota Kelompok Tani Wanita (KWT) Melati bangkit mengembangkan usaha dari hasil kebun.

Oleh: Wiwik Widaningsih

Di balik rerimbunan daun singkong, sejumlah ibu dengan cekatan mencabut ubi kayu. Peluh yang menetes tak menyurutkan senyum di wajah mereka.

“Satu…dua…tiga, tarik!”

Suara aba-aba itu disusul helaan nafas berat. Sesaat kemudian, sorak kegembiraan pecah di tengah ladang ketika seonggok umbi berhasil terangkat dari tanah.  Tangan-tangan anggota KWT Melati di Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, dengan tangkas menarik batang singkong, lalu mengumpulkan hasil panen ke dalam gerobak dorong.

Aktivis tersebut menjadi bagian dari keseharian 13 anggota KWT Melati yang kini mengandalkan kebun ubi kayu sebagai salah satu sumber penghasilan kelompok. Di atas lahan sekitar setengah haktare, mereka berusaha mengembangkan usaha pertanian sekaligus mencari peluang ekonomi baru bagi keluarga.

Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Sebelum menanam ubi kayu, anggota KWT Melati pernah membudidayakan berbagai jenis sayuran, seperti cabai dan tomat. Hasilnya belum sesuai harapan karena tanaman kerap dirusak kawanan monyet yang masuk kebun.

Gangguan monyet tersebut membuat tanaman yang telah dirawat tidak dapat dipanen. Kondisi tersebut sempat membuat anggota kelompok putus asa. Mereka kemudian mencari cara agar kegiatan berkebun tetap dapat berjalan.

Salah satu upaya dilakukan adalah memasang pagar kawat untuk melindungi lahan. Mereka juga mengubah jenis tanaman yang dibudidayakan. Ubi kayu dipilih karena dirawat dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi cuaca.

Sejak saat itu, kebun yang sebelumnya ditanami sayuran mulai dipenuhi tanaman singkong. Bantuan 50 karung kotoran ayam dari pemerintah desa turut dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman.

KWT Melati sendiri terbentuk pada Juni 2022 melalui keputusan kepala desa. Di bawah kepemimpinan Sri Wiji Rahayu Ningsih, kelompok ini terus berupaya mengembangkan kegiatan produktif dengan memanfaatkan potensi yang dilingkungan desa.

Mengubah Ubi Menjadi Keripik 

Pada awalnya, hasil panen ubi kayu dijual dalam kondisi mentah. harga jualnya berkisar Rp 40.000-Rp50.000 per karung dengan berat sekitar 30-35 kilogram. Hasil penjualan tersebut dinilai belum memberikan dinilai belum memberikan keuntungan yang memadai dibandingkan dengan tenaga yang harus dikeluarkan untuk mengolah lahan dan memanen ubi kayu.

Anggota KWT Melati kemudian mencoba mengolah hasil kebun menjadi Keripik. Awalnya, mereka terus belajar agar ubi memiliki nilai jual lebih tinggi.

Anggota KWT Melati mengiris ubi sebagai keripik

Dalam satu kali produksi, kelompok membutuhkan sekitar 100 kilogram ubi kayu. Usaha ini memberikan tambahan penghasilan bagi anggota. keuntungan bersih yang diperoleh sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp2,5 juta per bulan. Angka tersebut dapat meningkat hingga Rp5 juta ketika Ramadan atau saat mengikuti bazar UMKM.Keripik ubi kayu hasil produksi KWT Melati kini hadir dalam kemasan bermerek Ibu. tersedia dalam tiga variasi rasa, yakni manis, gurih, dan pedas. Produk tersebut menjadi bukti upaya anggota kelompok dalam meningkatkan nilai jual hasil kebun, yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam bentuk ubi mentah.

Untuk mengembangkan usaha, anggota KWT Melati mendapatkan pendampingan dari penyuluhan Pertanian serta dukungan PT Pertamina EP Lirik. Bantuan tersebut antara lain berupa fasilitas produksi dan 500 kemasan keripik untuk mendukung pengembangan produk.

Bagi anggota kelompok, usaha keripik bukan hanya mengolah hasil panen. Kegiatan tersebut membuka kesempatan untuk memperoleh nilai tambah dari ubi kayu yang selama ini dijual mentah.

Ketika Sampah Tak Lagi Dibuang 

Upaya anggota KWT Melati tidak berhenti pada pengembangan usaha keripik. Mereka juga mulai memanfaatkan sisa hasil kebun dan limbah rumah tangga agar tidak terbuang percuma.

Kulit ubi kayu, misalnya, dimanfaatkan sebagai bahan kompos untuk tanaman. Daunnya digunakan sebagai pakan ternak, sedangkan batang singkong yang masih layak dimanfaatkan kembali sebagai stek untuk penanaman berikutnya.

Kebiasaan mengolah sisa bahan tersebut menjadi salah satu bekal kelompok dalam mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka juga mengumpulkan bekas kemasan minyak goreng untuk dimanfaatkan menjadi kerajinan, seperti tas, atau dijual kepada pengepul.

Langkah pengelolaan sampah diperluas melalui kehadiran Bank Sampah Delima yang diluncurkan pada 7 Oktober 2026. Kehadiran bank sampah ini diharapkan mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.

Program tersebut mendapat dukungan PT Pertamina EP Lirik Field melalui program pengembangan dan pelibatan masyarakat (PPM), antara lain berupa mesin pencacah sampah kering, tong sampah, serta sarana pendukung lainnya.

Manager Pertamina EP Lirik Field, Luqman Arif menyerahkan bantuan peralatan pencacah sampah kering pada peluncuran Bank Sampah Delima

Manager Pertamina EP Lirik Field, Luqman Arif, mengatakan program bank sampah tersebut berawal dari gagasan anggota KWT Melati yang kemudian dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat.

“Program bank sampah ini merupakan gagasan ibu-ibu KWT Melati. Sebagai wujud dukungan, Pertamina EP Lirik memberikan bantuan peralatan pencacah sampah kering, tong sampah, dan sarana prasarana pendukung lainnya,”katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu, Elpahri Adha, berharap keberadaan program tersebut dapat menjadi contoh bagi desa lain dalam mengembangkan pengelolaan lingkungan. Volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir di wilayah Inhu, berdasarkan data yang disampaikan, mencapai sekitar 30-35 ton per hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu, Elpahri Adha memperlihatkan hasil mencabut ubi kayu saat melakukan peninjauan di lahan kebun KWT Melati

Sementara itu, Kepala Desa Lambang Sari V, Syafrizal, menyampaikan bahwa pemerintah desa berencana mendorong pembuatan lubang biopori di setiap rumah warga sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan.

“Slogan kami nantinya adalah sampah plastik jadi cuan bagi setiap keluarga. Dengan semangat ibu-ibu dan dukungan penuh dari Pertamina EP Lirik, kami optimistis kampung ini dapat menjadi kawasan wisata yang bersih dan bebas dari sampah plastik,”ujar Syafrizal. 

Anggota KWT Melati sekaligus Ketua PKK desa, Mardianis, menilai dukungan sarana dan pelatihan dapat menambah pengetahuan masyarakat dalam mengelola sampah.

“Dukungan Pertamina EP Lirik melalui bantuan sarana dan pelatihan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk melanjutkan kegiatan pengelolaan sampah,”katanya.

Di kebun yang dahulu pernah rusak akibat gangguan kawanan monyet liar, anggota KWT Melati kini menemukan cara untuk mempertahankan usaha mereka. Ubi kayu yang ditanam bersama tidak lagi hanya dijual dalam kondisi mentah, tetapi diolah menjadi keripik yang memberikan nilai tambah bagi kelompok.

Perjalanan itu juga membawa mereka pada kepedulian terhadap lingkungan. Sisa kulit ubi dimanfaatkan menjadi kompos, sementara kehadiran Bank Sampah Delima membuka peluang bagi masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga agar kembali bernilai guna.

Bagi 13 anggota KWT Melati, kebun ubi kayu dan bank sampah menjadi dua upaya yang saling melengkapi. Mereka berupaya mempertahankan sumber penghasilan serta mewujudkan lingkungan yang bersih.

Oleh   : Wiwik Widaningsih

Editor  : Hasan

  • Related Posts

    PWI Siak Bekali Kepala Sekolah Literasi Jurnalistik di Era Digital Tingkat SMA/SMK

    SIAK (CanelNews)– Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Siak menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kepala Sekolah Melek Jurnalistik, Sekolah Cerdas di Era Digital”, Kamis, (29/10/2026) di Aula Kantor Camat Tualang.…

    PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau, Siapkan Talenta Siap Kerja melalui Program Upskilling dan Pengembangan SDM

    DURI- Memasuki dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar ijazah dan capaian akademik. Keterampilan, pola pikir yang tepat, serta kemampuan menunjukkan potensi diri menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk bersaing…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    PWI Siak Bekali Kepala Sekolah Literasi Jurnalistik di Era Digital Tingkat SMA/SMK

    • By admin
    • Oktober 29, 2026
    • 21 views
    PWI Siak Bekali Kepala Sekolah Literasi Jurnalistik di Era Digital Tingkat SMA/SMK

    Nasi MBG Mentah dan Lauk Kecil, Penerima Manfaat di Posyandu Tambak Rejo Bengkalis Mengeluh

    • By admin
    • Oktober 28, 2026
    • 43 views
    Nasi MBG Mentah dan Lauk Kecil, Penerima Manfaat di Posyandu Tambak Rejo Bengkalis Mengeluh

    Menebar Pakan, Memanen Harapan di Gading Sari

    • By admin
    • Oktober 26, 2026
    • 69 views
    Menebar Pakan, Memanen Harapan di Gading Sari

    PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau, Siapkan Talenta Siap Kerja melalui Program Upskilling dan Pengembangan SDM

    • By admin
    • Oktober 25, 2026
    • 28 views
    PHR Perkuat Kompetensi Generasi Muda Riau, Siapkan Talenta Siap Kerja melalui Program Upskilling dan Pengembangan SDM

    Siasat KWT Melati: Berdamai dengan Monyet, Mandiri Lewat Keripik dan Bank Sampah

    • By admin
    • Oktober 22, 2026
    • 29 views
    Siasat KWT Melati: Berdamai dengan Monyet, Mandiri Lewat Keripik dan Bank Sampah

    Dinas Kominfo Rohil Tegaskan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan, Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi

    • By admin
    • Oktober 22, 2026
    • 41 views
    Dinas Kominfo Rohil Tegaskan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan, Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi